Data dan Kondisi Bencana Gempa Talaud, Sulawesi Utara

Hampir semua penduduk pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Talaud Sulawesi Utara saat ini masih mengungsi setelah tejadi gempa 7,4 SR semalam(12/2). Kepala Biro Pemberdayaan dan Bantuan Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Talaud, Dra. O Rompa menuturkan hal tersebut siang ini . Ia juga menuturkan kebutuhan yang dibutuhkan pengungsi saat ini adalah bahan makanan dan tenda. “Mungkin untuk hari ini cukup. Tapi kami butuh banyak bahan makanan. Sebab beberapa bulan ini, petani di Kepulauan Talaud gagal panen karena hujan,” ungkapnya. Padi, jagung dan singkong menurutnya sudah tidak bisa dipanen lagi.

Tenda komando menurutnya hanya tersedia 10 buah dan dipasang di Ibukota Kabupaten, Melonguane. “Kami juga sudah menggunakan tenda plastik, tapi tetap saja masih kekurangan,” ujarnya lagi. Rompa mengatakan bahwa kondisi geografis Kabupaten Kepulauan Talaud yang terdiri dari banyak pulau penyebabkan distribusi bantuan dan informasi kebutuhan korban belum merata. “Kondisi daerah kami yang dipisahkan laut, menyebabkan informasi kebutuhan juga belum semuanya,” papar dia. Saat ini menurutnya hampir semua penduduk pulau mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena takut terjadi tsunami. Menurutnya pihak provinsi Sulawesi Utara baru mengirim bantuan besok.

Kerusakan berat ditemui di beberapa pulau seperti Kabaruang, Kalibago, dan Karakelong. Retakan-retakan tanah selebar 3-4 centimeter banyaka ditemui di pulau-pulau ini baik di dalam atau luar rumah penduduk. Rumah yang rusak menurutnya juga cukup banyak. Jumlah sementara rumah rusak belum diketahui karena tim verivikasi masih dalam proses pencarian data. “Mungkin nanti sore baru ada laporannya,” katanya. Jumlah pasti korban yang luka dan ringan menurutnya juga belum diketahui. “Yang pasti untuk korban jiwa tidak ada,” jelasnya

Data sementara hasil pendataan dari 13 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Talaud dari sekretaris daerah Kepulauan Talaud, Ir. F. CH. Udang, MBA, MM. Bangunan, termasuk rumah penduduk, sekolah dan rumah ibadah, yang rusak berat 597 unit. Rusak sedang 326 unit dan yang mengalami keruskan ringan 297 unit. Total bangunan rusak 1220 unit. Kerugian ditaksir Rp. 10,9 milyar. Kabar terbaru sore ini (12/2) kerugiandiperkirakan sudah mencapai diatas Rp. 100 milyar.

Korban luka sebanyak 64 orang.

Setiap 5 sampai 20 menit masih terjadi gempa susulan. sebagian masyarakat mengungsi di tempat yang tinggi, sebagian lain mengungsi di depan rumah mereka masing-masing. Tempat pengungsian sudah disuplai dengan tenda, bantuan pengobatan, makanan dan minuman. (sumber : mediacenter)

Satkorlak Semarang, 20.000 Rumah Warga Kota Semarang Terendam Banjir

Semarang  - Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Kota Semarang melaporkan sekitar 20.000 rumah warga Kota Semarang terendam banjir hingga Senin (9/2).

Kepala Satkorlak PBA Kota Semarang Prasetijo, di Semarang, Senin, mengatakan banjir yang menggenangi Kota Semarang semakin meluas seiring dengan kondisi hujan yang terus mengguyur Kota Semarang.

Ia mengatakan, genangan air memang terus bertambah, misalnya di Wonosari, Ngaliyan juga dilanda banjir karena kiriman air hujan dari daerah atas.

Curah hujan yang masih tinggi, katanya, menyebabkan genangan air masih melanda sebagian besar warga Kota Semarang. “Hujan terus saja turun, sehingga genangan makin tinggi,” katanya.

Ia menyebutkan, jika sebelumnya banjir melanda di sebanyak sembilan kecamatan, sekarang bertambah menjadi 10 kecamatan.

Berdasarkan pantuan, genangan air yang cukup parah antara lain terjadi di Kelurahan Gebangsari, Kecamatan Genuk. Di Jalan Padi Raya, aktivitas warga di daerah itu lumpuh total.

Ketua RW XI Kelurahan Gebangsari, Wiryono mengatakan hampir semua warga di wilayahnya tidak bisa beraktifitas seperti biasanya karena semua rumah terendam air. “Di sini ada sebanyak 140 kepala keluarga dan semuanya terendam air,” katanya.

Meskipun rumah warga terendam, sebagian besar warga memilih bertahan di rumahnya masing-masing. Banjir yang melanda wilayah ini karena luapan Sungai Tenggang.

Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip yang terjun langsung ke wilayah Gebangsari meminta maaf kepada masyarakat karena belum bisa mengatasi persoalan banjir.

Ia mengakui, untuk daerah Gebangsari, Muktiharjo Lor, dan Muktiharjo Kidul penyebab utama banjir adalah luapan Sungai Tenggang. Maka itu normalisasi Kali Tenggang akan menjadi prioritas dalam penanganan banjir di daerah tersebut.

“Ada tiga sungai yang akan diperbaiki, yaitu Sungai Tenggang, Sungai Babon, dan Sungai Sringin,” katanya. Ketiga sungai itu yang selama ini menjadi penyebab banjir di Kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari, dan Semarang Timur.

Wali Kota bersama Wakil Wali Kota Mahfudz Ali juga meninjau Muktiharjo Lor dan Muktiharjo Kidul yang banjirnya juga tergolong parah.

Begitu juga dengan dapur umum yang diharapkan didirikan di setiap tempat yang aman dari banjir. “Dirikan dapur umum, buat nasi bungkus dibagikan ke warga, ini nanti ditanggung pemkot,” katanya. (ANTARA News)

Minggu Pagi, Banjir Rendam Kota Semarang Bawah

Banjir saat ini merendam sejumlah wilayah di Semarang, Jawa Tengah dengan ketinggian mencapai satu meter. Minggu (8/2) pagi ini, Kepala Kantor SAR Nasional Semarang, Riyadi mengatakan, banjir terjadi hampir merata di wilayah Semarang.

Sejumlah wilayah yang terendam air dengan ketinggian mencapai 1-1,5 meter antara lain di Mangkang, Rambutan, Purinjasmoro, Jalan Supriadi, Jalan Tunjung Biru, Karang Ayu, dan Cemarang Bawah. Banjir paling parah terjadi di Mangkang dengan ketinggian mencapai 1,5 meter.

“Banjir hampir merata di Semarang. Di Tanah Mas, Karang Ayu, Cemarang Bawah, di kotanya, di Tambak Lorok, di Mangkang, Tawang semuanya kena banjir,” tambahnya.

Warga Semarang yang membutuhkan bantuan SAR guna evakuasi akibat banjir dapat menghubungi Tim SAR dengan nomor telepon 024-7629192 atau langsung di nomor emergency 115 dari Semarang. (Regina Ratnasari - ELSHINTA)

Update:

Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (8/2/2009) pukul 08.00 WIB, air setinggi 10-15 cm menggenangi landasan pesawat. Akibatnya, seluruh penerbangan dari dan menuju Semarang dibatalkan.

Selain itu, di jalan masuk ke bandara air juga menggenang setinggi 50 cm. Kendaraan pun kesulitan untuk melewatinya.(Triono Wahyu Sudibyo - detikNews)

Sudah Sepekan Warga Tepian Bengawan Solo Terendam

Nasib malang dirasakan warga yang tinggal di bantaran Bengawan Solo. Sudah sepekan ini warga di tepain sungai yang paling panjang di Jawa ini hidup dengan genangan banjir. Namun, banyak warga memilih bertahan di rumah.

Banjir akibat melubernya Bengawan Solo kian meluas. Di Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah, air masih menggenangi permukiman di empat kampung. Sementara di Pucangsawit, Solo, yang tersisa pascabanjir hanyalah rumah-rumah yang hancur. Sawah dan ladang berantakan tak berbentuk lagi.

Banjir juga kembali rendam tiga desa di Magetan, Jawa Timur. Sejumlah petugas turun tangan untuk menjemput warga yang sakit guna dibawa ke puskemas. Di Ngawi, rumah, kantor, dan sekolah masih banyak yang terendam. Namun begitu akademi keperawatan tetap menggelar ujian akhir semester.

Ratusan rumah di kawasan pantai utara Subang, Jawa Barat, terendam banjir akibat meluapnya Sungai Ciasem setelah hujan deras mengguyur selama tiga hari. Buruknya sistem drainase dan hujan yang masih terus turun menyebabkan ketinggian air terus naik mencapai sekitar setengah meter.

Meluapnya sejumlah anak sungai di Banten juga membuat puluhan rumah di Ciruas dan Cipocok Jaya terendam banjir sekitar satu meter. Sejumlah sekolah diliburkan. Banjir karena saluran pembuangan air ke anak sungai tak berfungsi akibat pendangkalan. Sejauh ini warga bertahan di rumah.

Sejumlah daerah di luar Jawa juga terendam. Salah satunya di Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Banjir duduga disebabkan luapan air galian perusahaan tambang batubara yang banyak di daerah tersebut. Warga meminta pemda diminta meninjau kembali izin kuasa pertambangan.

Sedikitnya 2.500 rumah di empat kecamatan di Sanggau, Kalimantan Barat, diterjang banjir akibat meluapnya sejumlah anak sungai setelah hujan deras mengguyur beberapa hari ini. Ketinggian air mencapai satu meter. Banjir kali ini merupakan yang terparah selama 10 tahun terakhir.(YNI/Tim Liputan 6 SCTV)

9 Orang Tewas dalam Banjir 2 Hari

DetikNews - 9 Orang tewas akibat banjir disertai longsor di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Saat ini air sudah mulai surut dan situasi berangsur-angsur pulih kembali.

“Dampak banjir longsor minggu ini atau 2 hari, Jateng wafat 7 orang (1 Sragen dan 6 Karanganyar), Madiun (Jatim) 1 orang, Malino, (Sulsel) 1 orang,” ujar Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan (Depkes) Rustam Pakaya dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Minggu (1/2/2009).

Selain 9 orang tewas, menurut Rustam, 5 orang mengalami luka berat yaitu 1 orang di Jatim, 4 orang lainnya di Malino, Sulsel.

Saat ini lanjutnya, Depkes sudah mengirimkan bantuan ke daerah-daerah yang dilanda banjir, berupa makanan pengganti asi dan makanan siap saji.

Tim Kemanusiaan Susah Jangkau Distrik Abun dan Sausapor, Kab Sorong

Beberapa lembaga kemanusaiaan masih bergerak di Papua Barat. Salah satunya adalah Mer-C (Medical Emergency Rescue Commitee), sebuah organisasi kemanusiaan di bidang kesehatan. dr. Adianty Kartika, salah seorang dokter Mer-C yang dihubungi melalui telepon mengatakan saat ini timnya berada di Distrik Aimas, Ibukota Kabupaten Sorong. menurutnya di Aimas hanya sedikit korban gempa, “Ada satu dua yang luka ringan saat gempa,” katanya. Meskipun begitu, menurutnya Mer-C yang mempunyai klinik di Aimas, masih akan melanjutkan misi kemanusiaannya.

Menurutnya daerah terparah yang terkena gempa adalah dua distrik di Kabupaten Sorong, yaitu Abun dan Sausapor. Abun, sebuah distrik yang terletak di perbatasan kabupaten Sorong dan Manokwari, menderita kerusakan cukup parah. Sebab distrik ini dekat dengan epicentrum gempa. Untuk merapat ke dearah sini menurut dia tim-nya juga mengalami kesulitan. Bahkan seringkali harus kembali ke Sorong karena perahu tidak dapat mendarat. “Saya ke kampung Wau, Distrik Abun, hampir 80% rumah di kampung itu hancur, ” tambahnya lagi.

Bantuan menurutnya di kabupaten Sorong sudah cukup, terutama makanan dan obat-obatan. Namun mengenai kabat terbaru dari Abun, ia mengatakan belum mendapatkan data terbaru. “Sebab Abun dan Saosapor belum mempunyai sarana telekomunikasi dan listrik,” kata dia.

*Manokwari-AirPutih, via mediacenter.

Gempa Susulan Masih Sering Melanda Manokwari

Manokwari-AirPutih. Gempa 5,o SR yang melanda Manokwari sore tadi (20/1) getarannya terasa kencang. Orang-orang berlarian dari dalam rumah. Banyak dari mereka yang lari ke jalan dan halaman-halaman rumah. “Saya yang bersandar di tembok saja seperti terlempar,” ujar Sena, salah seorang warga di Wosi, Manokwari.

Solikhin Abdul, seorang aktivis di Manokwari, bercerita kondisi itu juga terjadi di pusat kota Manokwari, tepatnya di daerah Sanggeng. “Rata-rata mereka lari sampai halaman rumah,” kata dia.

Epicentrum gempa yang tak jauh dari Manokwari (85 KM) membuat getaransangat terasa. Sebab seringkali gempa dengan skala lebih besar namun pusat gempanya jauh tidak dirasakan penduduk Manokwari. Seperti gempa sebesar 5, 8SR yang terjadi Jumat pagi lalu (16/1), epicentrum-nya terletak 140 KM barat laut Manokwari, getarannya tidak terasa di Manokwari.

Kondisi berbeda terjadi di daerah-daerah yang dekat dengan puat gempa. Seorang anggota tim kemanusiaan jaringan LSM Papua yang ke Saukorem, Distrik Amberbaken bercerita gempa di sana biasanya diawali dengan gemuruh longsornya bukit-bukit, kemudian dilanjutkan dengan gempa besar. Selepas getaran besar, lalu diikuti getaran-getaran kecil.

*Sumber : mediacenter

Manokwari Mulai Bergerak Kembali

Manokwari - Memasuki malam ke 3 pasca gempa, kehidupan di Kabupaten Manokwari berangsur-angsur normal. Toko kembali buka dan jalanan telah ramai dipenuhi kendaraan bermotor.

Hal tersebut nampak seperti sebuah pusat perbelanjaan di Kota Manokwari, Selasa (6/1/2009) malam, tampak dipenuhi pengunjung.

“Secara umum Manokwari sudah normal seperti sedia kala,” kata Pangdam XVII Cendrawasih, Mayjen A.Y. Nasution kepada wartawan di Kantor Gubernur Papua Barat, Jl Siliwangi, Manokwari.

Selain itu aktifitas warga di malam hari pun telah berjalan seperti biasa. Masyarakat yang menjual durian di sepanjang jalan telah kembali menjajakan dagangannya. Listrik-listrik di rumah-rumah warga telah kembali menyala.

“Tapi untuk beberapa bangunan vital yang runtuh seperti hotel masih kami jaga guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Normalnya kembali denyut kehidupan Manokwari nampak dari mulai dibongkarnya beberapa tenda darurat warga. Seperti nampak di beberapa titik Jalan Yos Sudarso yang kemarin ditutup karena di pakai warga untuk mengungsi, kini telah kembali dibuka.

“Tadi kami sudah umumkan menggunakan pengeras suara jika tidak akan terjadi tsunami supaya warga kembali ke rumahnya dan meninggalkan tenda darurat di depan rumah,” pungkasnya.(asp/ndr)

*Andi Saputra - detikNews

Korban Meninggal di Papua 5 Orang

Sampai dengan 6 Januari 2009 pukul 08.00 WIB, korban meninggal akibat gempa yang menggoyang pada 4 Januari 2009 sebanyak 5 orang. Rinciannya, 2 di Manokwari dan 3 di Sorong.

Sedangkan korban luka  berat sebanyak 7 orang dan 50 orang luka ringan serta pengungsi sebanyak 14.049 orang yang tersebar di 19 titik yaitu di KODIM, GOR dan gedung lainnya.

Selain menyebabkan korban jiwa, gempa tersebut menyebabkan kerusakan di Kabupaten Manokwari dan Sorong, yaitu:

1. 1.056 unit rumah (134 rusak berat dan 922 rusak ringan)
2. 8 unit hotel (2 unit roboh, 5 rusak berat dan 1 unit rusak ringan)
3.  2 unit bank roboh
4.  1 unit gudang bulog rusak
5. 31 unit tempat ibadah (13 rusak berat dan 18 rusak ringan)
6. 4 unit sekolah rusak berat
7. 1 unit sarana kesehatan rusak berat
8. 23 unit sarana pemerintah (11 rusak ringan dan 12 rusak berat)
9.  2 jalan rusak ringan
10.  7 jembatan rusak ringan
11.  1 lokasi infrastruktur rusak

Upaya Penanganan

  1. Pada tanggal 5 Januari 2009, pukul 05.00 WIB dilakukan pengiriman bantuan (sortie II) dengan menggunakan pesawat hercules berupa : 5.940 ton pakaian dan permakanan (bantuan Presiden), 200 kg WC darurat (bantuan Dep PU), 681 kg obat-obatan (bantuan DepKes), 6.227 ton permakanan (bantuan Depsos) dan 8,55 ton tiang tenda 19 unit (bantuan BNPB).
  2. Pada tanggal 6 Januari 2009, pukul 05.00 WIB dilakukan pengiriman bantuan (sortie III) dengan mengguakan pesawat Hercules berupa : 14.598 ton sembako (bantuan Presiden) dan 70 kg peralatan teknis BMG.

*bakornaspb.go.id via mediacenter.or.id

Laporan Fertob dari Sorong

Fertob, salah satu kawan kita yang tinggal di Sorong, Papua Barat, mengisahkan pengalamannya ketika lindu menggoyang daerahnya. Laporan ini dikutip langsung dari blognya.

***

Minggu 4 Januari 2009 Pukul 04.40 WIT: Saya masih tertidur lelap. Saya yakin sedang bermimpi, meskipun lebih sering melupakannya. Dan yang saya yakini, mimpi itu bukan bergoyang-goyang laksana gempa.

Tiba-tiba bumi bergoyang. Segera melompat dari tempat tidur. Belum sadar dengan apa yang terjadi karena mata masih berat. Goyangannya makin keras dan akhirnya saya sadar apa yang terjadi dan segera melompat dari tempat tidur. Berteriak dengan keras GEMPA…!! membangunkan orangtua saya. (more…)