Tuhan, Jangan Terulang Lagi (Sebuah Cerita dari Gempa Manokwari)
- 21 January 2009
- 7 komentar
Gembira di akhir tahun 2008, trauma berkepanjangan di awal tahun 2009. Gempa tektonik 7,2 SR dan 7,6 SR serta 734 susulannya pada tanggal 4 Januari 2009 membuat Manokwari jadi kota sunyi teriring rubuhnya Hotel Mutiara dan Hotel Kalidingin. Tangisan dan ketakutan traumatik akibat guncangan gempa membuat sirna bunga api petasan dan meredupkan bara semangat tahun baru 2009.
Bencana alam, siapa dapat menghindar darinya? Alam punya kuasa, selain Tuhan yang menjadikan bumi ini. Tuhan yang berkuasa menciptakan bumi beserta isinya, sekalipun Tuhan tidak menginginkan kehancuran hasil ciptaan-Nya. Apakah mungkin bencana alam yang menimpa masyarakat Papua di Manokwari dan Sorong pada peristiwa gempa tektonik di awal tahun 2009 adalah kemarahan alam dan kutukan Sang Pencipta atas perilaku manusia? Jelas ini bukan salah dan dosa siapa-siapa. Hanya Tuhan yang tahu dan hanya alam yang mampu menjawabnya sendiri.
Refleksi Natal 25 Desember 2008 dan Kemeriahan Tahun Baru 1 Januari 2009 baru saja dilewati dengan perayaan yang sangat luar biasa. Refleksi kedamaian Natal sebagai kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup selama tahun 2008 untuk memperbaiki hidup di tahun berikutnya menjadi tema penghujung akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Tahun 2008 sampai akhirnya pada tanggal 31 Desember. Malam tahun baru 2009 menjadi puncak refleksi Natal itu. Sedih dan gembira satu jurusan dalam doa dan renungan seluruh umat manusia. Tuhan, kalau pada tahun 2008 nasib saya kurang beruntung karena perilaku saya jelek, mohon rahmat-Mu merubah hidup saya pada tahun 2009 agar saya bisa hidup baik dengan sesama manusia dan meraih kesuksesan yang saya impikan selama menjalani hidup ini. Semua mengimpikan suasana hidup baru. Bukan karena hidup ini diatur dan dikendalikan oleh kalender-kalender menghitung hari. Setiap orang mempunyai doa dan renungan masing-masing menurut keyakinannya. Yang jelas setiap individu maupun kelompok merayakan pelepasan tahun lama dan menyambut tahun baru dengan suka cita.
”Jauhkanlah kami dari segala cobaan dan segala macam marabahaya di tahun 2009 sampai selama-lamanya”, demikian ungkapan hati setiap orang yang percaya kepada Sang Maha Kuasa. Untaian doa-doa menurut keyakinan masing-masing, ritual keagamaan pun digelar di mana-mana untuk melepaskan tahun 2008 dan menyambut tahun 2009. Harapan semua orang adalah ingin hidup damai tanpa konflik dengan sesama dan tanpa trauma, termasuk trauma terhadap bencana alam. Semua orang mengharapkan segala bahaya di dunia ini dapat dijauhkan dari hidupnya dengan pertolongan Tuhan.
Malam Tahun baru 2009 dirayakan oleh semua umat manusia. Di kota Manokwari dan di kota-kota lain di seluruh belahan bumi ini merayakan penyambutan tahun baru 2009 dari yang sederhana hingga yang mewah-mewah. Di kota Manokwari, malam tahun baru dirayakan dengan kemeriahan pesta kembang api. Dari bawah kaki Gunung Meja Manokwari, terlihat dengan indah percikan-percikan bunga api dari petasan yang sangat mahal.
Seakan saling ’bayar-membayar’ antar lokasi bak perang Israel dan HAMAS di Jalur Gaza Palestina. Bunyi-bunyi petasan dan warna-warni petasan menghiasi kota Manokwari pada saat detik-detik akhir tahun 2008. Dari anak-anak kecil hingga orang dewasa tua renta ramai-ramai melepaskan tahun 2008 dengan bunyi-bunyian dan warna-warni kembang api. Dari kelas sederhana hingga petasan berharga Rp. 500,000 dengan ratusan kali ledakan. Hasil karya selama tahun lama disyukuri dengan perayaan berfoya-foya pada detik-detik akhir tahun 2008. Kota Manokwari ditutupi asap petasan dalam waktu sekejap.
Langitpun menjadi hitam. Bukan karena proses alamiah, tetapi karena petasan. Bayi-bayi yang baru lahir, berusia minggu hingga 3 bulan, susah tidur, karena suara meriam bambu, meriam karbitan menggoyang kota Manokwari. Meski demikian, tak satu pun dapat berpikir, apakah tahun 2009 akan membawakan kita kebahagiaan sebagaimana yang diharapkan?
Tanggal 1 sampai tanggal 3 Januari 2009, semua umat manusia di seluruh belahan bumi, termasuk warga kabupaten Manokwari dan Sorong saling berkunjung dari rumah keluarga, sahabat dan kenalan untuk berucap “Selamat Tahun Baru”. Arus balik mudik Natal dan Tahun Baru pun nampak dari datang dan perginya kapal-kapal PELNI dan pesawat yang singgah di kota Manokwari. Bagi pegawai negeri sipil, karyawan swasta, pelajar dan mahasiswa, tanggal 5 Januari 2009 adalah hari pertama untuk kembali beraktivitas pada tahun baru ini. Semangat tahun baru merasuki jiwa setiap insan untuk memulai rencana dan karyanya di tahun 2009. Semua kembali dengan semangat dan berkata dalam hati, ”Segala sesuatu indah pada waktunya”.
Mungkin sudah menjadi nasib bagi masyarakat Papua Barat di wilayah kabupaten Manokwari dan Sorong. Daerah ini sangat rawan gempa bumi tektonik. Papua Barat terletak di pertemuan 3 lempengan kerak bumi dan 1 sesar/patahan lokal.
Kita sebagai manusia tinggal di atas tanah, tidak tahu tentang konstruksi tanah di bawah laut atau di dalam tanah. Entah lempengan kerak bumi itu seperti apa, Tuhan sudah memberikan pengetahuan bagi manusia untuk menciptakan alat detektor yang bisa melakukan analisis tentang kondisi tanah dengan titik-titik api tektonik yang selalu menimbulkan bencana bagi manusia di atas tanah. BMG hanya bisa mencatat guncangan setelah gempa, tetapi bukan memprediksi apalagi menentukan kalender tentang kapan akan terjadi gempa bumi tektonik di Manokwari dan atau daerah lainnya di Tanah Papua dan di daerah lain di seluruh belahan dunia.
Paling tidak, gempa tektonik di wilayah Manokwari Papua Barat, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, telah terjadi tiga kali gempa kuat. Satu kali pada 7 Januari 2008 dengan kekuatan 6,4 SR dan dua kali pada 4 Januari 2009 dengan kekuatan 7,2 SR dan 7,6 SR. Sebelumnya, pada tahun 2002, terjadi gempa tektonik di sesar atau patahan Ransiki dengan kekuatan 5,3 SR. 18 hari kemudian terjadi susulan dengan kekuatan yang lebih besar yakni 6,4 SR. Peristiwa ini mengakibatkan Kampung Weriap di distrik Ransiki tenggelam. Pada 23 Desember 2007, terjadi gempa berkekuatan 5,0 SR, 14 hari kemudian (7/1) terjadi gempa berkekuatan 6,4 SR yang mengakibatkan korban kebakaran di kompleks Borobudur, kota Manokwari.
Kepala BMG Manokwari, G. Leskona mengatakan bahwa gempa tektonik 4 Januari 2009 merupakan gempa dengan kekuatan besar dalam pengalaman masyarakat di Manokwari. Pasalnya 7,2 SR dan 7,6 SR dengan ratusan kali gempa susulan dengan kekuatan rata-rata 5 SR dalam sehari. Gempa yang terjadi ini akibat pergerakan lempengan pasifik yang menekan lempengan Indo Australia. Pergerakan ini menghasilkan 7,2 SR dengan getaran yang sangat kuat sehingga menyebabkan gempa susulan 7,6 SR. Terkait kemungkinan ada tsunami, Leskona mengatakan bahwa berdasarkan prediksi BMG tidak ada tsunami, karena bukan lempengan pasifik yang bergerak. Lempengan Pasifik patah dan menimpa lempengan Indo Australia.
Namun, masyarakat perlu waspada. Gedung atau rumah yang retak sebaknya jangan digunakan dulu, karena pada umumnya gempa di Manokwari sifat dan polanya sulit diprediksi. Getaran susulan biasanya jauh lebih kuat, bukan menurun. BMG menghimbau masyarakat supaya tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Meskipun skalanya menurun, tetapi getarannya sangat kuat. Kita berada pada pertemuan 3 lempengan dan 1 patahan. Terkait masa gempa susulan, BMG tidak bisa pastikan apakah akan terjadi sampai kapan, yang jelas 2 sampai 3 hari setelah tanggal 4 Januari, kita terus waspada, karena kita belum bisa pastikan bahwa tidak akan terjadi susulan lagi.
Gempa pertama pada tanggal 4 Januari 2009, pkl. 04.48 WIT dengan kekuatan 7,2 SR. Diikuti susulan sebanyak 5 kali dengan kekuatan berkisar 5,7 – 6,1 SR. Tiga jam kemudian, tepatnya pkl. 07.35 WIT, terjadi gempa kedua (susulan) dengan kekuatan 7,6 SR pada koordinat 0,88 LS – 133,48 BT pada kedalaman gempa 10 KM. Pusat gempa pada 76 KM arah Barat Daya Manokwari, atau di antara posisi kabupaten Manokwari dan kabupaten Sorong, tepatnya di antara wilayah distrik Mubrani (Manokwari) dan Kasbediri, Prori (Sorong).
Staf Observasi BMG Manokwari, Yulson Sineri mengatakan bahwa pusat gempa 7,6 SR dekat salah satu kampung di Pantai Utara Manokwari mencapai radius 11,7 mil atau sekitar 19 KM. Selain 2 gempa dengan kekuatan besar itu, hingga tanggal 5 Januari atau hari kedua BMG mencatat sebanyak 688 kali gempa susulan dengan kekuatan rata-rata 5,0 SR dan 46 kali susulan dengan kekuatan di atas 5,0 SR. Jumlah keseluruhan gempa susulan selama 2 hari pertama itu sebanyak 734 kali. Selanjutnya, penulis pun hilang ingatan untuk bertanya kepada BMG, entah sudah sampai berapa kali gempa susulan hingga tanggal 20 Januari 2009.
Mengenai kronologi gempa tektonik 4 januari 2009, pukul 04.48 WIT, terjadi guncangan pertama dengan kekuatan 7,2 SR dengan pusat gempa 135 KM (jarak dari bibir pantai) arah barat laut Manokwari (0,42 LS – 132,93 BT dengan kedalaman 10 KM. Selang tiga jam kemudian, tepatnya pukul 07.33 WIT, terjadi gempa dengan kekuatan 7,6 SR. Pusat gempa kedua ini 76 KM (jarak dari bibir pantai) arah barat daya Manokwari (0,88 LS – 133,38 BT) dengan kedalaman 15 KM.
Rasa panik, ketakutan menghantui raut wajah setiap orang di kota Manokwari karena ternyata susulan lebih dahsyat kekuatannya dari gempa pertama. Hiruk-pikuk orang berlarian dari pantai naik ke darat. Astaga naga, Mutiara Hotel tenggelam ke dalam tanah, bukan runtuh atau roboh, tetapi guncangan itu menyebabkan rongga bawah tanah terbuka dan menelan bangunan besar berlantai 3 tingkat itu. Bukan sulap bukan sihir, Mutiara Hotel ditelan rongga tanah.
Gedung Pasar Tingkat menjadi saksi bisu menyaksikan peristiwa itu, selain orang-orang pedagang pasar yang pagi itu lagi bersiap-siap membuka dagangan mereka. Tamatlah riwayat Mutiara Hotel yang sudah berusia puluhan tahun dan sempat menduduki peringkat satu di kota Manokwari sebelum datangnya Swiss-bell Hotel di Kota Injil ini. Apakah ada korban dibalik reruntuhan itu? Syukur alhamdulilah, tidak ada korban tewas di Mutiara Hotel, yang sempat terkurung dapat dievakuasi dengan kondisi luka berat dan ringan. Pertanyaannya apakah pada malam itu hanya 4 atau lima orang yang menginap di Mutiara Hotel? Bisa juga tidak, tidak juga bisa, tetapi tim evakuator tidak menemukan yang lain, selain beberapa orang yang cedera dibalik reruntuhan itu.
Spontanitas dan gerakan refleks pun terjadi. Setiap orang mencari keselamatan diri dan keluarga. Pengungsian menjadi ramai di kota Manokwari. Penduduk kota Manokwari menjadi pengungsi di kota sendiri. Masyarakat yang bermukim di tepi pantai berlari dan memasang tenda-tenda darurat di sepanjang jalan utama kota Manokwari. Tidak hanya di jalan-jalan, bandara udara Rendani pun sempat dipenuhi warga di sekitarnya yang mengamankan diri beserta keluarga masing-masing. Halaman-halaman rumah pun terlihat tenda-tenda darurat, karena trauma. Rumah-rumah permanen dalam kondisi retak, susulan-susulan gempa masih terus terjadi. Tak satu pun orang berani masuk ke rumahnya. Tidur di tenda menjadi pilihan untuk menyelamatkan diri.
Konsentrasi Titik Pengungsian: Lapangan Kodim 1703 di Brawijaya, 1.126 jiwa; Lapangan Borarsi Manokwari, 105 KK dengan jumlah 502 jiwa; Fasharkan TNI-AL di Sanggeng, 333 Jiwa; Mako Brimob di Sowi Gunung, 672 jiwa; Kantor Bupati Manokwari, 1.200 jiwa; Bukit Kenyum di distrik Masni, 7.000 jiwa; Masjid Amban, 350 jiwa; Swafen Bahari, 15 KK dengan bayi 2 jiwa; Kantor Golkar/Kompleks Percetakan, 60 KK; SMA YAPIS di Reremi, 94 KK dengan 22 bayi dan 12 jiwa ibu hamil; SMK 01 di Reremi Permai, 25 KK; SMK 02 di Reremi Permai, 17 KK dengan bayi 6 jiwa, ibu hamil 2 jiwa; Sahara di Wirsi, 28 KK, luka ringan 4 jiwa; Brawijaya gunung jati, 45 KK, 1 luka ringan; ribuan jiwa lainnya tersebar di seluruh kota.
Pada pasca gempa yang mengguncang kota Manokwari dan kota Sorong, sampai dengan tanggal 5 Januari atau hari kedua peristiwa ini, jumlah masyarakat yang mengungsi seluruhnya berjumlah 12.314 orang. Kini mereka masih tersebar di beberapa titik. Misalnya, di Fasharkan TNI AL Manokwari sebanyak 333 orang, Mako Brimob Manokwari 672 orang, kantor bupati Manokwari 1000 orang, Bukit Kenyum distrik Masni 7000 orang, Masjid Amban Manokwari 350 orang, Lapangan Kodim 1703 Manokwari 1.126 orang, Lapangan Borarsi Manokwari 500 orang. Pada 17 titik lainnya sekitar 1.359 orang. Sementara di kota minyak Sorong, para pengungsi berada pada daerah lapangan alun-alun Aimas dan Kota Sorong di GOR KM 14. Sesuai data yang diterima JASOIL Tanah Papua dari Posko PBP Papua Barat, jumlah korban jiwa hanya satu jiwa di Manokwari. Sementara korban luka-luka baik ringan maupun berat sebanyak 66 orang. Di Manokwari sebanyak 40 orang, sementara di kota Sorong sebanyak 19 orang. Gempa ini juga menyebabkan sejumlah bangunan ibadah rusak berat. Tercatat sebanyak 31 rumah ibadah yang rusak, belum termasuk jembatan dan sekolah di Manokwari, Kota dan Kabupaten Sorong.
Atas perintah Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), empat Menteri bergegas menuju Manokwari melalui bandara udara Biak, karena bandara Rendani sempat ditutup sejak hari pertama gempa. Keempat Menteri yang mengunjungi Manokwari untuk menyalurkan bantuan diantaranya, Menteri Sosial RI Bachtiar Hamsah langsung memberikan bantuan uang tunai sebesar satu milyar rupiah, satu unit mobil ambulance serta bahan makanan yang diterima secara simbolis oleh Gubernur Papua Barat Abraham Oktovianus Atururi. Sementara menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyerahkan bantuan uang tunai sebesar 200 juta rupiah serta obat-obatan dan peralatan medis. Menteri perhubungan Yusman Safei Jalil, menyerahkan bantuan berupa uang tunai sebesar 500 juta rupiah dan berjanji akan mendatangkan alat pendeteksi gempa. Soal kerusakan infrastruktur akibat gempa, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kimanto berjanji akan menanggulangi seluruh kerusakan tersebut. Pada kesempatan itu Kepala PNPB (Badan Nasional penanganan Bencana) Samsul Maarif turut memberikan bantuan dana sebesar 500 juta rupiah. Para menteri ini juga sempat mengunjungi secara langsung korban gempa di posko pengungsian di lapangan Kodim 1703 Manokwari dan melakukan pemantauan udara dengan menggunakan 2 pesawat Pilatus milik Polda Papua dan Casa 212-200 Skadron Udara 4.
Para menteri tersebut tiba di bandara udara Rendani pkl.7.30 WIT dengan menggunakan pesawat Hercules dan Casa 212-200 Skadron Udara 4. Rombongan menteri diterima Gubernur dan Bupati beserta seluruh pejabat teras provinsi dan kabupaten Manokwari, Dandim 1703, Kapolres Manokwari dan Kafasharkan TNI-AL. Sesudah mendengar pemaparan Gubernur terkait musibah gempa, keempat menteri berkunjung ke posko pengungsi di Lapangan Borarsi. Sesudahnya mereka melakukan pemantaun dari udara sekitar 45 menit dan selanjutnya mereka kembali ke Jakarta. Singkat kata singkat cerita, datang membawa bantuan bencana dan pergi meninggalkan tanda tanya bagi rakyat.
Menyikapi bencana ini, Pemprov Papua Barat, kata Gubernur A.O Atururi kini terus memberikan pemahaman tentang bahaya bencana (Early Warning Sistem/Traditional) serta pelatihan dan simulasi PB Tim Tagana Papua Barat. Sehingga mereka bisa menyampaikan kepada masyarakat Papua Barat agar memilih tempat dan titik pengungsian yang sama. Upaya lainnya dengan mengaktifkan Satkorlak PBP Papua Barat untuk memberlakukan tanggap darurat. Termasuk menggelar posko pengungsian dengan mendirikan tenda-tenda dan gelar dapur umum, pendistribusian bahan makanan dan mie instan ke titik-titik pengungsian serta melakukan evakuasi korban ke rumah sakit terdekat.
Saat melaporkan situasi Papua Barat pasca gempa bumi kepada empat menteri, gubernur mengakui bahwa posisi geografis provinsi ini berada di 3 – 7 LS dan 130 – 133 BT dan sangat rawan gempa bumi tektonik. Papua Barat terletak di pertemuan 3 lempengan kerak bumi dan 1 sesar atau patahan lokal yakni Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, Lempeng Indo Australia dan Sesar atau Patahan Rasiki.
Gubernur mengatakan bawah hambatan dan kendala yang dihadapi pemerintah provinsi dalam penanganan korban gempa adalah gempa terjadi pada masa hari libur Natal dan Tahun Baru sehingga tidak/belum ada aktivitas instansi pemerintah, kerusakan akibat gempa juga terjadi hampir merata di sejumlah fasilitas umum termasuk kantor-kantor pemerintah, masih minimnya fasilitas kesehatan di RSUD Manokwari dan pengungsi tidak terkonsentrasi di 1 tempat, tetapi tersebar di seluruh kota.
Mengenai gempa tektonik di wilayah Manokwari Papua Barat, gubernur mengemukakan bahwa dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, telah terjadi 3 kali gempa kuat yakni 1 kali pada 7 Januari 2008 dengan kekuatan 6,4 SR dan 2 kali pada 4 Januari 2009 dengan kekuatan 7,2 SR dan 7,6 SR. Sebelumnya, pada tahun 2002, terjadi gempa tektonik di sesar Ransiki dengan kekuatan 5,3 SR. 18 hari kemudian terjadi susulan dengan kekuatan yang lebih besar yakni 6,4 SR. Peristiwa ini mengakibatkan kampung Weriap di distrik Ransiki tenggelam. Pada 23 Desember 2007, terjadi gempa berkekuatan 5,0 SR, 14 hari kemudian (7/1) terjadi gempa berkekuatan 6,4 SR yang mengakibatkan korban kebakaran di kompleks Borobudur, kota Manokwari.
Kepala BMG Manokwari, G. Leskona mengatakan bahwa gempa tektonik 4 Januari 2009 merupakan gempa dengan kekuatan besar dalam pengalaman masyarakat di Manokwari. Pasalnya 7,2 SR dan 7,6 SR dengan ratusan kali gempa susulan dengan kekuatan rata-rata 5 SR dalam sehari. Gempa yang terjadi ini akibat pergerakan lempengan pasifik yang menekan lempengan Indo Australia. Pergerakan ini menghasilkan 7,2 SR dengan getaran yang sangat kuat sehingga menyebabkan gempa susulan 7,6 SR. Terkait kemungkinan ada tzunami, Leskona mengatakan bahwa berdasarkan prediksi BMG tidak ada tzunami, karena bukan lempengan pasifik yang bergerak. Lempengan pasifik patah dan menimpa lempengan Indo Australia. Namun, masyarakat perlu waspada. Gedung/rumah yang retak sebaknya jangan digunakan dulu, karena pada umumnya gempa di Manokwari sifat dan polanya sulit diprediksi. Getaran susulan bisa saja jauh lebih kuat, bukan menurun. BMG menghimbau masyarakat supaya tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Karena biar skalanya menurun/kecil, tetapi getarannya sangat kuat. Kita berada pada pertemuan 3 lempengan dan 1 patahan. Terkait masa gempa susulan, BMG tidak bisa pastikan apakah akan terjadi sampai kapan, yang jelas 2 sampai 3 hari setelah tanggal 4 Januari, kita terus waspada, karena kita belum bisa pastikan bahwa tidak akan terjadi susulan lagi.
Gempa pertama pada tanggal 4 Januari 2009, pkl. 04.48 WIT dengan kekuatan 7,2 SR. Diikuti susulan sebanyak 5 kali dengan kekuatan berkisar 5,7 – 6,1 SR. Tiga jam kemudian, tepatnya pkl. 07.35 WIT, terjadi gempa kedua (susulan) dengan kekuatan 7,6 SR pada koordinat 0,88 LS – 133,48 BT pada kedalaman gempa 10 KM. Pusat gempa pada 76 KM arah Barat Daya Manokwari, atau di antara posisi kabupaten Manokwari dan kabupaten Sorong, tepatnya di antara wilayah distrik Mubrani (Manokwari) dan Kasbediri, Prori (Sorong).
Staf Observasi BMG Manokwari, Yulson Sineri mengatakan bahwa pusat gempa 7,6 SR dekat salah satu kampung di Pantai Utara Manokwari mencapai radius 11,7 mile atau sekitar 19 KM. Selain 2 gempa dengan kekuatan besar itu, hingga tanggal 5 Januari atau hari kedua BMG mencatat sebanyak 688 kali gempa susulan dengan kekuatan rata-rata 5,0 SR dan 46 kali susulan dengan kekuatan di atas 5,0 SR. Jumlah keseluruhan gempa susulan selama 2 hari pertama itu sebanyak 734 kali.
Pihak RSUD Manokwari menerangkan bahwa sampai dengan hari kedua pasca gempa, 25 korban menjalani perawatan. 3 pasien diantaranya menjalani rawat inap yakni Maryati yang mengalami patah tulang pergelangan kaki kanan dan mengalami luka sobek cukup serius, Eka yang mengalami patah tulang pada pergelangan kaki kiri dan mengalami luka sobek serius, Hafifah yang mengalami patah tulang rusuk. Selain itu satu korban meninggal, yakni Yolanda Febiola Bondopi (bocah 10 tahun) yang masih duduk di bangku SD akibat tertimpa reruntuhan pagar gedung STIH Manokwari di Jl. Gaya Baru Wosi.
Jadwal penerbangan dari dan ke Manokwari pun dialihkan sementara di bandara internasional Biak. Bandara Udara Rendani Manokwari sempat ditutup, termasuk pelabuhan PELNI Manokwari. Bandara Rendani pun sejak tanggal 4 Januari dipenuhi oleh masyarakat yang mengamankan diri dan keluarga untuk sementara di landasan pesawat. Namun, kemudian bandara dan pelabuhan laut dibuka kembali pada tanggal 5 januari 2009.
Warga masyarakat di distrik Warmare, Prafi dan Sidey mengungsi dari rumah ke lokasi-lokasi yang dianggap aman. Gempa mengakibatkan puluhan rumah masyaakat dan fasilitas umum mengalami kerusakan berat. Lahan pertanian masyarakat pun mengalami kerusakan berat, tanah terbelah dan munculkan air dan pasir dari dalam tanah. Terdapat 10 tiang listrik roboh di SP 6.
Akibat gempa tektonik, aktivitas pendidikan dan ekonomi di Manokwari lumpuh total. Hal ini terjadi karena ada kekhawatiran akan terjadinya tsunami dan gempa susulan. Aktivitas pendidikan pada berbagai sekolah SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi Sawasta dan Negeri tidak berjalan. Padahal semestinya tanggal 5 Januari, aktivitas pendidikan sudah seharusnya berjalan kembali setelah liburan natal dan tahun baru. Warga masyarakat termasuk siswa pelajar dan mahasiswa, guru dan dozen lebih memilih engamankan diri bersama keluarga, ketimbang berpikir tentang proses pendidikan yang seharusnya mulai berjalan. Di seluruh kota Manokwari terlihat tenda-tenda darurat dimana warga masyarakat lebih memilih tinggal di tenda-tenda darurat daripada masuk ke dalam rumah. Selain karena rumah mengalami kerusakan, juga karena khawatir akan terjadi gempa susulan lagi.
Sampai dengan hari kedua gempa ini, aktivitas perekonomian belum berjalan. Pasar, toko, bahkan kios-kios kecil pun tidak berani menjalankan aktivitas perdagangan. Namun, beberapa toko tetap buka, walaupun dalam keadaan waspada, seperti Toko Mawar, dekat Hotel Mutiara. Pemilik Toko Mawar mengatakan bahwa pihaknya membuka toko dengan maksud membantu masyarakat yang membutuhkan, kalau semua tutup, sedangkan ada yang ingin membeli bahan makanan untuk keluarganya, sementara tidak ada toko yang buka. Air PDAM macet, PLN tidak menyala, SPBU tidak beroperasi. Pasca gempa, kebanyakan balita dan anak-anak bahkan orang dewasa menderita penyakit ISPA, Diare dan malaria. Guncangan gempa tektonik juga menyebabkan beberapa pipa PDAM Manokwari di beberapa lokasi patah. Lokasi Transito dan di Maruni, ada pipa yang patah dan ada juga yang bocor, sehingga untuk sementara air PDAM belum berfungsi.
Bantuan bagi korban gempa terus mengalir, banyak dermawan secara langsung menyalurkan bantuannya kepada korban melalui posko korban gempa di kantor Gubernur Papua Barat dimana ada Satkorlak Provinsi. Ketua PKK provinsi Papua Barat, Ny. J. Atururi mengatakan bahwa bantuan dari pihak PKK sengaja disalurkan melalui Posko Bencana Provinsi Papua Barat karena memiliki data akurat mengenai korban bencana. Pihaknya menyerahkan 200 karton mie instan dan 50 karton air mineral.
Dokter ahli bedah UNHAS Makassar didatangkan untuk bantu korban gempa. Prof. Dr, dr. Idrus Paturusi SpB, SpOrt menerangkan bahwa sampai dengan saat ini pihaknya telah menangani operasi terhadap enam orang korban patah tulang akibat gempa tektonik di RSUD Manokwari. Ke-6 orang korban tersebut telah dipindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat inap untuk mendapatkan perawatan intensif. Enam korban tersebut menderita patah tulang di bagian kaki, antara lain Ny. Maryati, Ny. Eka, Bpk. Kristofel, Bpk. Lagalesi, Bpk. Poniram, dan Bpk. Nikson.
Warga harapkan bantuan korban gempa diserahkan merata, karena itu satkorlak-satkorlak perlu mengambil data yang akurat di setiap lokasi pemukiman dan juga titik-titik pengungsian agar semua masyarakat yang membutuhkan bantuan tersebut mendapatkan bantuan. Karena sampai dengan saat ini, masyarakat belum berani kembali ke rumah. Warga masih diliputi trauma akibat guncangan gempa 7,2 SR dan 7,6 SR yang merupakan peristiwa gempa tektonik terbesar dalam pengalaman masyarakat di Manokwari. Sementara gempa susulan pun masih terus terjadi, walaupun skalanya kecil, tetapi karena trauma, maka warga lebih memilih tinggal di tenda-tenda.
Tuntut pemerataan penyaluran bantuan gempa, penghuni asrama Mansinam Amban membuat palang di jalan raya. Mahasiswa yang tinggal di asrama Mansinam dan kelurahan Amban menggelar aksi pemalangan jalan gunung salju Amban, bahkan mencegat mobil dinas milik pemprov Papua Barat, terkait penyaluran bantuan kepada korban bencana yang tidak merata. Mereka juga membentangkan kasur di tengah jalan dan juga kompor. Aksi dilakukan dengan maksud menyampaikan kepada pemerintah bahwa di lokasi Amban pun ada korban bencana. Sebuah mobil milik bagian Humas pemprov Papua Barat yang melintas jalan langsung dicegat, termasuk beberapa kendaraan bernomor plat PB. Kepala distrik Manokwari Barat, Elisa Sroyer S.Sos bersama Lurah Amban langsung melakukan pendekatan di lokasi, namun negosiasi itu sempat memanas ketika sebuah truk polisi dengan personelnya mendatangi TKP. Warga berteriak meminta bantuan bencana, bukan melakukan tindakan anarkis, sehingga polisi tidak perlu campur tangan. Sempat terjadi aksi dorong-mendorong antara warga setempat dengan polisi. Jalan dibuka kembali setelah ada negosiasi damai antara warga, pihak kepal distrik dan polisi dengan catatan bahwa segera diberikan bantuan tenda dan bahan makanan, karena mereka di Amban juga korban bencana yang membutuhkan bantuan dari pemerintah provinsi maupun kabupaten.
Akibat gempa, sejumlah ruang kuliah Unipa rusak berat. Rektor Unipa, Yan Pieter Karafir menduga kampus Unipa berada pada jalur gempa sehingga tidak pernah luput dari kerusakan pada setiap terjadinya gempa di wilayah Manokwari. Karafir menerangkan bahwa terdapat 9 gedung yang mengalami kerusakan berat, sedangkan sejumlah gedung lainnya mengalami kerusakan ringan. Kerusakan berat yang parah terdapat di gedung kuliah Matematika FMIPA, gedung Fakultas Kehutanan dan gedung kuliah FPPK. Rata-rata gedung di UNIPA yang mengalami kerusakan adalah bangunan yang berkonstruksi lantai dua (bertingkat). Pada umumnya tiang-tiang (pilar) gedung mengalami kerusakan yang mencemaskan mahasiswa maupun dosen untuk menggunakannya. Plafon dan tangga di sejumlah gedung UNIPA tidak dapat difungsikan lagi karena mengalami keruntuhan. Mahasiswa yang sedang menjalani ujian, terpaksa mengikuti ujian di tenda-tenda.
Sejumlah fasilitas pendukung bandara Rendani rusak berat. Kepala bandara udara Rendani, Sabarudin Rustam menerangkan bahwa guncangan gempa menyebabkan gedung pemadam kebakaran rusah berat, keretakan pada tower, bahkan fasilitas komunikasi di tower juga rusak. Untuk memperbaiki kerusakan ini, pihaknya telah melaporkan semua kerusakan kepada Menteri Perhubungan dan pejabat perhubungan pusat.
Satkorlak PBP Papua Barat salurkan bantuan kemanusiaan. Koordinator Divisi Logistik, Drs. Johanis Hegemur, M.Si menerangkan bahwa sampai dengan tanggal 6 Januari ini pihaknya telah menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat korban yang tersebar di kota Manokwari. Bantuan itu berupa 2 ton beras, 200 karton mie instan, 100 karton kain selimut dan 100 karton kain sarung. Sementara jumlah bantuan yang masuk ke posko satkorlak provinsi ini, beras 19,5 ton, 616 karton mie instan, 190 karton air mineral, gula pasir 108 kg, biskuit 18 kaleng, kain selimut 100 karton, kain sarung 100 karton, daun teh 2 karton, susu ultra 100 karton, dan obat-obatan 9 karton.
Dianita, warga kampung Ambon yang rumahnya mengalami kerusakan berat dan tinggal di tenda darurat di halamn rumahnya mengaku sampai dengan saat ini belum mendapat bantuan dari pemerintah. Bahkan belum ada petugas dari Tagana, RT/RW, Dinas Sosial dan lainnya yang datang mengambil data keluarganya. Padahal posisi kampung Ambon itu hanya berapa meter dari kantor gubernur dimana ada posko Satkorlak provinsi, tetapi warga di sekitarnya malah terlantar.
Bantuan kemanusiaan dijadikan ajang kampanye. Beberapa sukarelawan yang membawa bantuan bagi korban bencana menggunakan kendaraan dan atribut partai politik. Sebuah kendaraan roda empat yang dipakai para sukarelawan itu jelas-jelas bertuliskan ”Relawan SBY”. Bantuan yang sampai ke distrik Masni dan Prafi juga diantar atas nama partai politik tertentu.
Saat gempa mengguncang Manokwari, Ajang Partai Politik untuk berkampanye. Hal ini diungkapkan Abner Korwa, salah satu tokoh masyarakat di kelurahan Padarni-Manokwari yang memergoki sejumlah pimpinan partai politik dan calon legislatif (caleg) memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk berkampanye secara terselubung dengan membagikan bantuan kemanusiaan. Pihaknya melihat ada lambang partai, nama pimpinan partai dan caleg partai yang tertempel di karton-karton bantuan kemanusiaan yang dibagikan kepada korban bencana gempa. Menurut Abner, kampanye terselubung ini perlu disikapi oleh Panwaslu dan KPU untuk menindak tegas parati politik yang mencuri start kampanye pemilu 2009. Abner meminta kepada partai-partai politik supaya tidak memanfaatkan situasi gempa ini untuk berkampanye. Jangan memanfaatkan kesempatan saat masyarakat berduka.
Bantuan dari berbagai donatur terus disalurkan bagi korban bencana. Sekda provinsi Papua Barat, G.C. Auparay dalam rapat yang digelar di posko utama di halaman kantor gubernur menerangkan bahwa bantuan dari berbagai donatur semakin banyak memberi perhatian bagi korban. Diantaranya, Bank BRI, Pramuka Kwarda Kabupaten Manokwari, KNPI Papua Barat, BP Tangguh dan para donatur lainnya. Bantuan yang diberikan berupa bahan makanan dan tenda yang ditampung di gudang Kodim 1703 Manokwari. Sebagian dari bantuan ini sudah disalurkan kepada korban gempa di titik-titik pengungsian.
Gerakan LSM pun tidak ketinggalan, dari yang LSM lokal hingga LSM internasional semuanya melakukan aksi peduli korban bencana gempa tektonik di Manokwari yang kebetulan Kota Injil ini juga menjadi Pusat Provinsi Papua Barat. Sebut saja JASOIL (Jaringan Advokasi Sosial dan Lingkungan) Tanah Papua yang berada di Manokwari. Anggota JASOIL yang sekalipun juga adalah korban bencana, juga segera beraksi cepat melakukan koordinasi anggota jaringan dan melakukan pendataan korban dan sekaligus menyerukan penggalangan bantuan baik di tingkat lokal Manokwari, Jayapura, dan juga Jakarta. FOKER LSM Papua segera merespons seruan JASOIL di Manokwari dengan menghubungi KIPRA (Konsultasi Independen Pemberdayaan Rakyat) sebuah LSM lokal di Jayapura dan Tim KOLINCA (Koalisi Peduli Bencana Alam), sebuah unit layanan darurat peduli bencana alam yang berada di bawah koordinasi FOKER LSM Papua di Jayapura.
Selain KIPRA dan KOLINCA, sebuah LSM lokal yang sudah lama mendampingi korban bencana alam di Nabire, yakni PRIMARY yang berkonsentrasi untuk penanganan kesehatan dan air bersih pada pasca gempa. Ketiga lembaga ini langsung bergabung dengan Tim Kemanusiaan JASOIL yang menempatkan Posko Layanan Bantuan Bencana di Kantor PERDU Manokwari. Tim Kemanusiaan dari kalangan LSM ini menempatkan fokus layanan di daerah-daerah sulit namun berada di pusat gempa tektonik 7,6 SR itu, seperti distrik Kebar, distrik Senopi, distrik Amberbaken, distrik Mubrani. Awalnya rencana untuk melayani 9 distrik di pesisir pantai utara dan pegunungan Tanbrauw kabupaten Manokwari. Namun, apa daya hendak dikata, maksud hati ingin memeluk gunung Tambrauw hingga gunung Arfak, namun tangan tak sampai, karena ’Korban Bantu Korban’.
Selain LSM lokal di Papua dan khususnya di Manokwari, ada juga OXFAM, CRS, UNDP, UNFPA, dan WVI. Lembaga-lembaga internasional ini membangun koordinasi dengan pihak Satkorlak provinsi Papua Barat untuk membantu korban, tetapi ternyata mereka pulang dengan damai karena kurang mendapat respons baik dari pemerintah daerah. Apalagi, kalau hanya datang untuk survey data melulu, sudah tahu orang semuanya pada stress, pakai tanya-tanya lagi.
Namun, PMI (Palang Merah Indonesia) dan Yayasan Air Putih Jakarta masih bertahan hingga sekarang melayani korban bencana alam dengan kemampuan dan kreatifitas masing-masing.
Tim Kemanusiaan JASOIL yang didukung KOLINCA, KIPRA, PRIMARY sejak awalnya, kemudian menyusul dukungan tekhnis dari Satkorlak Provinsi Papua Barat serta Satkorlak Kabupaten Manokwari setelah ’adu jotos argumentatif’ beberapa hari dengan para pihak pengambil kebijakan di daerah rawan gempa tektonik ini. Semestinya, kita belajar dari pengalaman bahwa pemerintah sendiri tidak bisa menangani semuanya. Keterlibatan LSM Lokal sangat penting, karena LSM lokal juga mengenal masyarakat sipil di Manokwari dari daerah yang mudah dijangkau hingga daerah yang sulit di pesisir pantai dan pegunungan. Seandainya ada kemauan baik dari pemerintah untuk berbagi peran sejak hari pertama gempa, pasti masyarakat tidak marah-marah karena tidak dapat bantuan dan sentuhan kemanusiaan dalam hal tanggap darurat.
Masalahnya, pemerintah provinsi dan kabupaten mengandalkan kepala-kepala distrik untuk melaporkan kondisi di masing-masing wilayah. Sementara, semuanya masih menjalani masa libur Natal dan Tahun Baru, yang artinya mereka tidak ada di tempat tugas, semua berada di kota bersama keluarga. Kepala-kepala distrik pun harus menunggu laporan dari kepala-kepala kampung (desa) yang mengharapkan pula laporan dari ketua-ketua RT/RW. Sementara, JASOIL yang juga beranggotakan masyarakat sipil dan mempunyai contact person di kampung-kampung sudah lebih dahulu memberi informasi sejak hari pertama. Sekalipun medan sulit ditembus, tetapi masyarakat yang tinggal di kampung bisa sampai di kota dan melaporkan kondisi mereka kepada JASOIL. Masyarakat memang rakyatnya pemerintah, tetapi mereka juga sahabat dan teman susah-senang membangun dengan apa adanya bersama LSM yang juga bekerja untuk kepentingan masyarakat yang sama. Setelah koordinasi dibangun dengan baik, maka Tim Relawan Kemanusiaan JASOIL pun bergegas menembus medan sulit ke Kebar, Senopi dan Amberbaken melalui jalur darat. Pelajaran ini penting, untuk masa depan.
PT. Jasa Raharja Persero Cabang Papua menyerahkan bantuan sembako (sembilan bahan pokok) kepada korban bencana alam melalui posko satkorlak pemprov Papua Barat. Bantuan itu berupa 2 ton beras dan 100 karton mie instan, yang diterima oleh Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat, Drs. Rahimin Katjong selaku Ketua Satkorlak PBP Papua Barat. Wagub menyatakan bahwa bantuan sekecil apapun yang diberikan oleh para donatur, sangat bermanfaat bagi korban bencana, karena itu pihaknya akan menyalurkan bantuan-bantuan tersebut kepada masyarakat korban bencana.
Ruas jalan trans Manokwari-Oransbari hingga Ransiki mengalami rusak berat. Guncangan gempa tektonik di awal tahun 2009 ini selain mengakibatkan gedung-gedung bertingkat mengalami keruntuhan seperti Hotel Mutiara dan Hotel Kalidingin di Manokwari, juga menyebabkan rusaknya jalan raya penghubung Manokwari-Oransbari-Ransiki. Jalan dan jembatan mengalami kerusakan sehingga tidak bisa dilalui dengan kendaraan, kalaupun bisa dilalui, kondisi jalan sangat membahayakan pengguna jalan. Salmon, salah satu warga distrik Ransiki dan Adolof, salah satu warga distrik Momi Waren menegaskan bahwa masyarakat mengharapkan perbaikan jalan raya segera dilakukan setelah situasi gempa normal. Karena itu pemerintah provinsi Papua Barat dan Kabupaten Manokwari diharapkan untuk memprioritaskan perbaikan jalan raya.
Pedagang pasar Wosi mulai beraktivitas, walau dalam kewaspadaan. Abdulkhori, salah satu pedagang mengatakan bahwa berdasarkan informasi dari BMG bahwa gempa susulan masih akan terjadi tetapi skalanya akan semakin kecil, maka para pedagang berani menjalankan aktivitasnya kembali di pasar. Masalahnya, orang di kota hidup dari pasar, sehingga kalau pasar tidak dibuka, semua orang akan mengalami kesulitan besar untuk makan.
Bantuan korban gempa belum tepat sasaran. Perhatian posko satkorlak bantuan bencana alam hanya menyalurkan bantuan bagi pengungsi yang kebetulan bertenda di jalan utama, sedangkan masyarakat yang tinggal jauh dari jalan utama terlantar. Vera, warga jalan pasir Wosi mengaku sejak hari pertama, pihaknya bersama warga di lokasi itu tidak mendapat bantuan sama sekali dari satkorlak. Padahal, rumah-rumah warga di sekitar itu juga mengalami kerusakan berat, sehingga masyarakat tinggal di tenda, namun bantuan pun tidak kunjung tiba. Vera mengaku sangat menyesal dengan sikap pemerintah yang hanya membagi bantuan di lokasi-lokasi tertentu saja dan tidak turun langsung untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Yustinus, warga Transito Wosi mengaku rumahnya mengalami kerusakan berat. Keluarga dan warga lainnya tinggal di tenda yang bukan bantuan, tetapi milik warga. Sebuah tenda tidak mungkin menampung semua orang di kompleks, sehingga yang diprioritaskan hanya perempuan dan anak-anak. Sementara tidak ada petugas satkorlak juga yang datang mencatat data, apalagi membawa bantuan. Pihaknya menyesalkan sikap pemerintah yang justru memberi bantuan kepada warga lain yang mengungsi hanya karena panik, sementara mereka yang benar-benar membutuhkan karena rumahnya rusak berat, ternyata tidak mendapat perhatian sama sekali. Yustinus menyayangkan pula pndataan yang dilakukan baik oleh kepala distrik, lurah, RT/RW yang hanya asal mencatat saja tanpa melihat langsung kondisi yang sebenarnya. Akibatnya, masyarakat yang rumahnya hancur tidak terdaftar, sementara yang tidak rusak sama sekali justru terdaftar.
Daud Indouw, anggota DPRD Manokwari menghimbau agar bantuan pemerintah pusat yang diperuntukkan bagi korban bencana diharapkan benar-benar tepat sasaran dan menyentuh langsung masyarakat yang menjadi korban. Jangan ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, jangan pula ada pilih kasih dalam penyaluran bantuan tersebut. Supaya tidak terjadi salah sasaran dalam penyaluran bantuan, maka pihak kabupaten harus secara langsung mengkoordinir bantuan yang berasal dari provinsi. Tetapi justru yang terjadi adalah Dinas Sosial Provinsi langsung turun lapangan dan sendiri membagi bantuan, makanya bantuan tidak sampai kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Ini baru yang kita lihat di kota Manokwari dan sekitarnya, belum yang berada di luar kota jauh di pesisir dan pedalaman seperti Amberbaken, Kebar dan Senopi yang tidak bisa dijangkau. Bisa saja perhatian pemerintah hanya dipusatkan saja di kota, sementara mereka yang berada di daerah sulit tetapi kondisinya lebih parah malah tidak mendapatkan bantuan dan perhatian serius dari pihak pemerintah. Selain itu, Daud Indouw mengaku bahwa dirinya melihat secara langsung bagaimana pihak satkorlak menyalurkan bantuan. Misalnya pada saat mereka mendistribusikan bantuan tenda dan bama, mereka hanya melemparkan tenda dan karton-karton bama dari atas truck. Tidak melakukan proses pendataan untuk menghitung berapa banyak jiwa di lokasi itu dan kira-kira apa yang dibutuhkan oleh korban. Akibatnya, korban yang sesungguhnya tidak mendapatkan bantuan, sementara pengungsi yang hanya kebetulan karena panik dan trauma itu yang mendapat tenda dan bama. Anggota DPRD ini juga mengharapkan ada Tim Khusus yang bertugas memantau proses pendistribusian bantuan kepada korban-korban bencana. Jangan ada lagi pihak yang justru mengambil keuntungan lewat pemberian bantuan ini, termasuk pihak partai politik yang menggunakan kejadian ini sebagai ajang untuk berkampanye.
Hofni Rumbruren, warga Kali Dingin di belakang Transito Manokwari mengaku pihaknya dan warga disekitarnya sampai dengan saat ini belum mendapatkan bantuan dari satkorlak provinsi maupun kabupaten. Hofni mengaku sudah ada bantuan dari PMI, tetapi tidak mencukupi warga yang mengungsi di tenda-tenda, karena pada umumnya masyarakat yang bermukim di pantai mengungsi ke lokasi belakng transito. Jadi, pemerintah perlu mengambil data yang akurat juga di lapangan, jangan pakai pendekatan RT/RW atau Lurah. Karena yang berada di lokasi belakang Transito ini bukan hanya warga setempat, tetapi juga dari RT/RW lain yang mengungsi dar pantai. Hal ini dimaksudkan supaya pembagian bantuan itu merata dan tepat sasaran.
Pada akhirnya, kita hanya bisa berseru dan berseru, ”Tuhan, Jangan Terulang Lagi….” Tapi apalah boleh buat, Alam mempunyai kuasa sendiri, seperti Allah mempunyai kuasa atas segala-galanya. Jangan ada lagi bencana serupa, jangan ada lagi pemanfaatan kesempatan dalam kesempitan untuk meraup untung dari bantuan kemanusiaan. Jangan ada lagi ajang kampanye berkedok bantuan kemanusiaan peduli korban gempa dan jangan ada lagi dusta di antara kami, jangan ada lagi janji tinggal janji. Jangan ada lagi dan jangan ada lagi dan jangan terulang lagi….segalanya dan semuanya yang tidak sesuai dengan kehendak Sang Pencipta
*Oleh Pietsau Amafnini ( Koordinator JASOIL Tanah Papua, Wartawan JUBI Papua, Korban Bencana Alam Gempa Tektonik 4 Januari 2009) via mediacenter.


